Pasar Modal Di Indonesia
Sumber gambar : https://supermom.com
Pasar modal Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat, yang ditandai dengan berkembangnya jumlah emiten dari 132 emiten pada tahun 1990 menjadi 394 emiten pada tahun 2008. Meningkatnya emiten yang menerbitkan saham di Bursa Efek Indonesia mengakibatkan semakin banyak jumlah lembar saham yang beredar. Investor perlu melakukan berbagai analisis, baik analisis teknis maupun analisis fundamental.
Analisis tersebut berguna untuk menilai saham-saham yang akan dipilih dan untuk mengetahui tingkat return yang diharapkan dalam menentukan strategi investasi yang akan dilakukan (Ferawati, 2019).
Secara historis, pasar modal telah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Pasar modal atau bursa efek telah hadir sejak jaman kolonial belanda dan tepatnya pada tahun 1912 di Batavia. Pasar modal ketika itu didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk kepentingan pemerintah kolonial atau VOC.
Meskipun pasar modal telah ada sejak tahun 1912, perkembangan dan pertumbuhan pasar modal tidak berjalan seperti yang diharapkan, bahkan pada beberapa periode kegiatan pasar modal mengalami kevakuman. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti perang dunia ke I dan II, perpindahan kekuasaan dari pemerintah kolonial kepada pemerintah republik Indonesia, dan berbagai kondisi yang menyebabkan operasi bursa efek tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pemerintah Republik Indonesia mengaktifkan kembali pasar modal pada tahun 1977, dan beberapa tahun kemudian pasar modal mengalami pertumbuhan seiring dengan berbagai insentif dan regulasi yang dikeluarkan pemerintah.
Sebelum pelaku pasar melakukan investasi, para investor akan melakukan penilaian saham terlebih dahulu. Apakah saham yang ditawarkan layak dibeli atau tidak. Investor akan membeli saham sebuah perusahaan untuk tujuan spekulasi dengan harapan akan memperoleh keuntungan dari selisih perubahan harga saham. Maka angka-angka akuntansi inilah yang membantu para investor dalam melakukan penilaian saham. Nilai pasar suatu perusahaan merupakan indikasi yang baik dari persepsi investor tentang prospek bisnisnya. Rentang pada nilai pasang sangat besar yang dimulai dari $1 juta untuk perusahaan dan hingga milliard untuk perusahaan besar yang sukses di dunia. Nilai pasar oleh penilaian atau kelipatan yang diberi oleh investor kepada perusahaan, semakin besar nilai pasarnya maka semakin besar pula nilai perusahaannya. Sifat dinamis pada nilai pasar bisa mengalami naik turun pada periode waktu yang telah ditentukan serta secara substantif yang disebabkan pada siklus yang terdapat pada bisnis. Nilai pasar dapat turun selama pasar bearish yang membersamai resesi serta nilai pada saat pasar bullish yang terjadi pada saat ekspansi mengenai ekonomi. Nilai pasar dapat sesuai pada berbagai penyebab yang lainnya, misalnya sektor perusahaan yangproftabilitasnya, beban utang, beroperasi serta lingkungan yang begitu luas.Munculnya fenomena know ledge-based business, yang secara prinsip dipengaruhi oleh kecanggihan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan, telah membawa perubahan hasil laporan mengenai financial yang hanya tertuju dengan kinerja keuangan yang terdapat di perusahaan dilihat kurang bisa menampilkan nilai perusahaan itu sendiri. Sebuah perusahaan mempunyai sebuah keinginan untuk meningkatkan nilai perusahaannya. Nilai perusahaan terbilang baik jika laba dan kinerja keuangan perusahaan tersebut dalam arti kata baik atau bisa juga tercermin dari harga sahamnya. Dalam penelitian ini nilai perusahaan dapat diukur dengan price to book value. Price to Book Value (PBV) adalah perbandingan harga antara harga per saham (Husnan,2013). Alasan kenapa nilai perusahaan itu membandingkan perusahaan yang memiliki standar akuntansi yang sama dalam suatu kawasan industri bahkan perusahaan dengan pendapatan negatif (Christina I,2017)(Christiana & Nurwani, 2019). Jika dilihat dari fisik saja nilai perusahaan tidak sesuai dengan nilai pasarnya karena ada nilai tak berwujud yang mempengaruhinya. Pentingnya peran dan kontribusi aset tidak berwujud dapat dilihat perbandingan nilai buku dan nilai pasar pada perusahaan-perusahaan yang berbasis pengetahuan (Fajarini I,2012). Adapun perbedaan antara harga saham dengan nilai buku aktiva perusahaan memunculkan hidden value. Investor akan memberi penilaian lebih atas saham perusahaan yang disebabkan oleh modal intelektual.(Christiana & Nurwani, 2019)

